Selasa, Januari 15, 2008

Penghargaan Bagi Mantan Pemimpin

Media saat ini ramai-ramai memberitakan kondisi kesehatan Soeharto, mantan Presiden Republik Indonesia yang pernah berkuasa selama 32 Tahun. Sampai saat ini (16/01), kesehatannya pun masih sangat kritis. Tubuh yang dulunya sangat tegap dan gagah dengan seragam kebesaran militernya, saat ini diselimuti alat-alat bantu yang menempel pada tubuhnya. Soeharto, begitu banyak hal-hal positif yang telah dilakukannya untuk bangsa ini, tapi tidak sedikit juga hal-hal negatif terkait tentang dirinya.
Saya sempat bertanya kepada seorang teman tentang Pak Harto
“Menurutmu dia sosok pemimpin yang seperti apa?”
“Superior”, katanya. “Mmm… dilihat dari lama dia berkuasa..terus betapa bedanya Indonesia saat beliau berkuasa...lihat aja Indonesia yang sekarang begitu demokratis (katanya). Kalau dulu, yaa gitu deh….”

Apa yang terjadi saat Soeharto berkuasa? saya sebenarnya tidak tahu apa-apa. Toh saya saat itu baru duduk di bangku sekolah dasar. Yang saya tahu nama presiden RI saat itu adalah Soeharto, yang dijuluki bapak pembangunan nasional, yang fotonya selalu terpampang di tembok depan kelas saya. Dimana selama 32 Tahun, hanya gambar wakil presiden yang bisa berganti, sedangkan gambar Presiden Soeharto tetap pada tempatnya dan sama sekali tak tergantikan.

Pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden pertama Indonesia, Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) Kepada Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto. Surat Perintah itu memberi wewenang untuk “mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban”. Saat di Sekolah Dasar pun, saya telah mengetahui sejarah ini. Saat itu lah masa pemerintahan Soeharto dimulai.

Supersemar, sejarah yang tidak mungkin dilupakan bangsa Indonesia. Naskah asli supersemar masih menjadi misteri. A. Pambudi dalam bukunya yang berjudul "Supersemar Palsu, Kesaksian Tiga Jenderal", mengungkapkan bahwa terdapat berbagai versi mengenai Surat Pemerintah ini. Terdapat tiga versi naskah asli Supersemar. Dua diantaranya pasti palsu , bahkan ketiganya mungkin juga palsu. Dimana disebutkan pula bahwa supersemar hanya sebagai akal-akalan untuk membawa Soeharto menuju puncak kekuasaan.

Selain isu akal-akalan supersemar, Isu-isu negatif lainnya telah menyelimuti mantan orang nomor satu di Indonesia tersebut. Dimulai dari kasus korupsi, kolusi, nepotisme, sampai isu keterlibatannya dalam tragedi-tragedi kemanusiaan yang terjadi di Indonesia.

Saat ini, isu penghentian tuntutan kasus Soeharto telah merebak dan tentunya menimbulkan pro dan kontra. Dalam Tempo Interaktif (07/01) lalu, Ketua DPR Agung Laksono mengatakan bahwa mantan Presiden Soeharto telah berjasa bagi bangsa ini meskipun juga banyak kesalahan yang telah dilakukannya, “penghakimannya saat dilengserkan dari jabatan presiden kan sudah cukup”,katanya.

Saat kondisi kesehatannya yang sudah sangat buruk seperti sekarang ini, apakah sebaiknya kasus-kasusnya ini dihentikan?

Kalau Proses hukum menyatakan Soeharto bersalah, tentunya dia harus dihukum. Tapi proses hukum ini nyatanya tidak pernah tuntas. Apabila kasus-kasus Soeharto benar-benar dihentikan, dapat dikatakan hal ini sebagai suatu bentuk penghargaan bagi mantan Pemimpin yang telah dengan berjasa membangun negeri tercinta ini. Walaupun disisi lain, kebenaran tetap tidak akan terungkap dan keadilan tetap tidak bisa ditegakkan.

Retnowati Abdul Gani Knapp, penulis buku biography Soeharto, "The Life & Legacy of Indonesia Second President", telah menuliskan kesuksesan dan kegagalan Pak Harto dalam hidupnya. Dalam acara wawancara di salah satu stasiun TV swasta, wanita yang disapa akrab Ibu Wati ini mengungkapkan bahwa kesalahan Pak Harto dalam hidupnya adalah terlalu memberi peluang kepada konglomerat yang intergritasnya diragukan dan juga terlalu memberikan keistimewaan kepada anak-anaknya. Putri dari Almarhum Ruslan Abdul Gani ini juga menilai Pak Harto dari kesederhanaan dan kemauannya untuk menerima nasib beliau sekarang. Kata bijak yang pernah almarhum ayahnya katakan adalah, “Orang besar kesalahannya juga besar”. Berkaitan juga dengan tulisannya tentang Pak Harto, Ibu Wati juga mengutip pernyataan Bill Clinton, dalam Buku Biography-nya yang berjudul "My Life",
“.…..I’m Good Man or Not, It’s for God to Judge”.

Terlepas dari apakah beliau orang yang baik atau tidak, Pak Harto adalah manusia biasa. Mempunyai kekuatan maupun kelemahan, dan tidak ada seorangpun yang dapat menghakiminya.

Saat ini, berbagai elemen masyarakat di berbagai daerah, dari yang pro sampai dengan yang kontra Soeharto, bersama-sama berdoa untuk kesembuhannya. Walaupun kiprah Pak Harto selama ini membuat dirinya mendapat nama buruk dalam banyak hal, tak dapat lagi dipungkiri, dia adalah sosok pemimpin yang dibenci sekaligus dikagumi.

Oleh : Lydia Okva Anjelia

Tidak ada komentar: